Membuat Ekobricks Massal salah satu Kampanye Tidak Membuang Sampah Ke Sungai Yang Dilakukan Petakala Grage Melibatkan Banyak Anak Anak Usia Dini. Foto : Petakala Grage
  • Sampah makin menjadi masalah lingkungan saat ini. Tanggung jawab perusahaan dalam menangani sampahnya kini makin disuarakan
  • Salah satu perusahaan, Potato Head di Bali membuat galeri pengelolaan sampah bernama Sustainism Lab
  • Kolaborasi dengan seniman untuk kampanye pengurangan sampah plastik juga makin mendapat tempat, apakah berdampak?
  • Pemerintah Bali membuat peraturan pengurangan timbulan sampah plastik yang mulai dijalankan pada awal 2019

Dilansir dari situs Mongabay-Indonesia, Sampah kiriman adalah dalih yang paling sering terdengar saat membicarakan timbunan sampah di tepi pantai-pantai wisata di pulau dewata. Seolah-olah sumber sampah bukan dari Bali.

Mulung sampah disungai khusus plastik dan dipenjarakan kedalam botol bekas. Poto : Petakala Grage

Solusinya apa? Salah satu sumber sampah adalah aktivitas pariwisata. Potato Head di Bali, sebuah beach club jaringan internasional di Pantai Seminyak, Kuta ini membuat Sustainism Lab, sebuah demplot laboratorium pengolahan sampah sendiri. Klub populer yang didatangi ratusan orang tiap hari ini menghasilkan lebih dari 40 ton sampah per bulan. “Ini bisa setara satu dusun,” ujar Dewa Legawa, Eco Champion Potato Head.

Di sebuah ruang mirip galeri kecil ini, dipamerkan alat-alat pengolah sampah seperti pencacah plastik, pencetak, dan lainnya. Ada juga hasilnya seperti batu bata campuran bijih plastik dan pasir. Kemudian wadah bergradasi warna dari daur ulang tutup botol dan plastik yang dipanaskan lalu dicetak jadi plat. Plat inilah jadi bahan baku aneka wadah seperti wadah sampo, sabun, dan lainnya.

“Sisa sampah kita 10% ke TPA, misalnya tisu dan aluminium foil yang tak bisa kami olah,” lanjut Dewa. Ia memperlihatkan contoh sampah-sampah dari sejumlah restoran dan hotel di area Potato Head ini. Ada sisa makanan seperti buah dan sayur, kertas, tisu, tetrapack, botol kaca, plastik aneka jenis, dan lainnya.

Dari sisa sampah yang terpilah ini, diatur mana yang bisa didaur ulang sendiri, yang harus dibawa ke tempat lain seperti tetrapack, atau langsung diambil pengepul. Terutama sisa makanan organik, perusahaan sudah punya kerjasama dengan pengumpul limbah organik untuk pakan ternak.

Plastik PET (Polyethylene Therepthalate) juga dikirim ke pengepul yang akan membawa ke Surabaya karena tak bisa didaur ulang. Bungkus rokok dan tetrapak susah dipisahkan karena multilayer, berlapis-lapis dari kertas, aluminum foil, dan lainnya. Untungnya tetrapak punya unit recycleyang siap menampung.

“Kuncinya di pemisahan sampah. Kalau sudah dipisahkan, akan mudah dikelola,” Dewa mengingatkan. Sustainism Lab ini menurutnya ruang uji coba dan belajar pekerja dan perusahaan untuk mengenal sampah sendiri. Ada tekad membuat sejumlah material dari daur ulang untuk digunakan lagi.

Aneka produk hasil daur ulang dari sampah Potato Head, Kuta, Bali, yang diolah sendiri di lab-nya. Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

Dewa menyebut proyek pertama adalah buat batu bata. Targetnya sekitar 400 ribu batu bata akan dicetak dari daur ulang plastik label botol kemasan dan kresek LDPE (Low Density Polyethylene)yang dicampur pasir. Satu buah brick perlu 1 kg plastik. “Kekuatannya seperti paving block. Untuk hotel baru Potato Head,” sebut Dewa.

Sementara pengolahan tutup plastik botol dengan cara dicacah, oven 30 menit di alat khusus, lalu cetak jadi lempengan. Sisa styrofoam rencananya dicacah lalu campur semen dan pasir untuk jadi materi peredam suara di night club. Ada juga sisa restoran seperti cangkang kerang yang akan diolah sebagai dekorasi.

Upaya pengelolaan sampah juga mendorong sejumlah peraturan bagi pengunjung, misalnya pengurangan kresek dengan melarang tamu membawa material sekali pakai (single use). Selain itu meminta penyedia logistik mengurangi pemakaian plastik dalam kemasan atau bungkusnya.

Selain Sustainism Lab, perusahaan yang berada di pinggir pantai Seminyak, Kuta, Bali ini membuat sejumlah instalasi seni bekerja sama dengan seniman. Ada ratusan jendela kayu bekas etnik penarik perhatian pengunjung di bangunan utama. Desain karya arsitek Indonesia, Andra Matin ini kini makin mencolok dengan sebuah instalasi seni di samping fasadnya.

Ada rangkaian ombak dari sekitar 5000 sandal jepit bekas, didapatkan dari limbah di pantai. Seniman kelahiran Jerman, Liina Klaussmembawa sampah laut ini ke darat dan mengubahnya jadi karya seni agar bisa jadi refleksi bagi manusia. Berjudul “5000 Soles”, karya visual ini sangat menonjol di depan pintu masuk dan seolah jadi bagian dari arsitektur bangunan dengan fasad jendela-jendela kayu tadi.

Sampah sandal jepit ini dikelompokkan sesuai warnanya kemudian dirangkai seperti gradasi pelangi. Ada putih, merah muda, biru muda, hijau, kuning, hitam, dan lainnya. Semua warna bergradasi karena warna sandal tak sama, juga memudar dikikis air asin atau air sungai.

Seni instalasi berjudul 5000 Soles dari ribuan sandal bekas ini jadi refleksi sampah manusia yang mengotori pesisir. Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

Pertanggungjawaban perusahaan

Aliansi Break Free From Plastic (BFFP) yang terdiri lebih dari 1300 anggota jaringan ini menyampaikan hasil audit merk (brand audit) dari sampah laut  yang dikumpulkan 2018 lalu di 42 negara, 6 benua dari 239 kegiatan bersih-bersih pesisir laut dan darat. Lebih dari 187 ribu unit sampah plastik ini dipilah-pilah sesuai merek-nya.

Jane Patton, koordinator audit merek gerakan dan alinasi #breakfreefromplastic ini memaparkan laporan hasil audit..

Sejumlah merk terbanyak yang ditemukan adalah Coca-Cola, PepsiCo, Nestlé, Danone, Mondelez International, Procter & Gamble, Unilever, Perfetti van Melle, Mars Incorporated, dan Colgate-Palmolive. Tiga teratas (Coca-Cola, PepsiCo, dan Nestlé) menyumbang 14% dari sampah plastik bermerek ditemukan di seluruh dunia.

Coca-Cola ditemukan di 40 dari 42 negara yang berpartisipasi. Lebih dari 75% dari semua 239 pembersihan yang berpartisipasi melaporkan menemukan produk bermerek Coca-Cola di sepanjang pantai mereka, jalan, dan lainnya.

Diperkirakan 8,3 miliar metrik ton plastik telah diproduksi secara total sejak tahun 1950-an, dan penelitian terbaru menunjukkan bahwa hanya 9% yang memilikinya telah benar-benar didaur ulang, 12% telah dibakar, dan sisanya sekitar 80% sebagian besar berakhir di tempat pembuangan sampah, di lautan, atau sekitar kita.

Dewa Legawa, seorang Eco Champion Potato Head menunjukkan pemilahan sampah di perusahaannya. Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

Aliansi BFFP ini termasuk lembaga-lembaga dan komunitas jaringannya di Indonesia yang tergabung dalam Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) menyampaikan rekomendasi agar produsen atau perusahaan melakukan langkah nyata. Sejumlah cara di antaranya mengurangi penggunaan dan penggunaan plastik sekali pakai dengan rencana aksi dan tenggat waktu yang jelas serta pelaporan secara transparan terkait penggunaan plastik produk mereka.

Kedua, berinvestasi dalam model pejualan dan distribusi, mendisain ulang untuk pengurangan plastik sekali pakai, kemasan sekali pakai, agar bisa digunakan kembali atau pengisian ulang.

Ketiga, mendesain ulang produk yang menimbulkan mikroplastik, termasuk microbeads, microfiber, dan lainnya yang sulit dikumpulkan saat jadi limbah. Keempat kerjasama dengan pengecer, pemerintah, dan lembaga masyarakat untuk solusi yang lebih berkelanjutan, misalnya aturan pengurangan plastik dan penggunaan berlebih.

Kelima, menolak solusi yang salah seperti pembakaran sampah dengan insinerator, skema plastik ke bahan bakar, daur ulang bahan kimia, dan lainnya yang menimbulkan masalah baru. Lainnya, mencegah penggunaan bioplastik yang masih menggunakan bahan kimia dan berbahaya bagi lingkungan.

Partisipan World Clean Up Day bersama relawan Greenpeace mengumpulkan sampah plastik di Pantai Kuk Cituis, Tangerang Banten pada Jumat (15/9/2018). Acara itu sebagai bagian dari gerakan Break Free From Plastic. Foto : Greenpeace Indonesia/Mongabay Indonesia

Walikota Denpasar Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra dan Gubernur Bali Wayan Koster mengeluarkan regulasi pelarangan sampah plastik yang dimulai Januari 2019.

Regulasi tersebut yaitu Peraturan Walikota Denpasar No.36/2018 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik dan Peraturan Gubernur Bali No.97/2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai(PSP).

Namun hanya tiga jenis PSP yang dilarang dalam Pergub ini yakni kantong plastik, polysterina (styrofoam), dan sedotan plastik. Aturan ini mewajibkan setiap orang dan lembaga baik pemasok, distributor, produsen, penjual menyediakan pengganti atau substitusi PSP. Juga melarang peredaran, distribusi, dan penyediaan PSP baik oleh masyarakat, pelaku usaha, desa adat, dan lainnya. Mari pantau implementasinya.

Sumber: https://www.mongabay.co.id/2019/04/03/sustainism-lab-cara-trendi-kelola-sampah-sendiri-di-bali/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here