Sekitar 7.000 sungai yang mengalir di Indonesia semakin buruk kualitasnya dan mengancam kehidupan ekosistem di sekitarnya. Sebagai upaya penyelamatan dan peningkatan kualitasnya, dilakukanlah Kongres Sungai Indonesia (KSI) IVpada 2124 Maret 2019. Poto adalah kegiatan Petakala Grage bersama Masyarakat DAS Cisanggarung di Sungai Cisanggarung.
Sekitar 7.000 sungai yang mengalir di Indonesia semakin buruk kualitasnya dan mengancam kehidupan ekosistem di sekitarnya. Sebagai upaya penyelamatan dan peningkatan kualitasnya, dilakukanlah Kongres Sungai Indonesia (KSI) IVpada 2124 Maret 2019. Poto adalah kegiatan Petakala Grage bersama Masyarakat DAS Cisanggarung di Sungai Cisanggarung.

Sekitar 7.000 sungai yang mengalir di Indonesia semakin buruk kualitasnya dan mengancam kehidupan ekosistem di sekitarnya. Sebagai upaya penyelamatan dan peningkatan kualitasnya, dilakukanlah Kongres Sungai Indonesia IV (KSI) pada 21—24 Maret 2019.

Ketua Presidium Kongres Sungai Indonesia Warsito Elewein menyampaikan, upaya revitalisasi sungai sejauh ini belum bisa menghasilkan kemajuan seperti yang diharapkan. Oleh karena itu, kemajuan revitalisasi sungai butuh konsolidasi antar pihak yakni komunitas, perguruan tinggi, swasta, media dan pemerintah.

Perkembangan dunia yang kian komplek membuat manusia mesti mencari model-model  baru mengatasi persoalan hidup. Demikian pula dalam mengatasi persoalan sungai.

Menempatkan  pemerintah sebagai penanggung jawab tunggal bagi terwujudnya sungai yang bersih tidaklah bijak. Ada pihak lain yang mesti ikut serta, seperti perguruan tinggi, dunia usaha , komunitas, serta media massa.

Untuk itulah Kongres Sungai Indonesia IV (KSI) kembali digelar 21-24 Maret 2019 mendatang di Komplek Kampus Universitas Indonesia. Ada 7 agenda besar yang akan dibahas untuk bisa mencapai sebuah sinergi antar para pihak  dalam upaya mencari solusi bersama persoalan sungai.

Adapun tema utamanya adalah Sungai Sebagai Pusat Peradaban Bagi Peningkatan Kualitas Hidup Manusia.

“Lewat kongres ini kita mencoba mencari bentuk penyelesaian masalah sungai secara gotong royong dan bersama-sama,” ujarnya dalam siaran pers, Senin (4/3/2019).

Kegiatan-kegiatan yang digelar KSI IV mesti merupakan tempat yang paling nyaman bagi pihak-pihak yang punya kepedulian terhadap sungai. Dengan demikian dapat saling memberikan informasi apa saja yang telah dilakukan serta mendiskusikan bentuk kerjasama baru.

Cara ini diharapkan akan menghasilkan model-model penyelesaian masalah yang komprehensif. Kelompok-kelompok kreatif sungai akan ikut tampil untuk mengekspresikan ide dan gagasan mereka baik bidang seni, budaya serta ekonomi.

“Sebelumnya  ada acara pra kongres yang akan berlangsung di berbagai tempat di Indonesia, untuk wilayah Jawa Tengah berlangsung di Semarang, tanggal 5-6 Maret 2019,” ujar Warsito menambahkan.

Dalam kegiatan prakongres ini, para peserta berdiskusi secara mendalam sehingga KSI IV akan bisa berjalan efektif dan terfokus. Kegiatan serupa akan berlangsung di  Serdang Bedagai, Lampung, Pontianak, Kupang, Sorong, dan Makassar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here